default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Catatan Sejarah di Balik Film Jejak Langkah 2 Ulama

Catatan Sejarah di Balik Film Jejak Langkah 2 Ulama
Suara Pembaca
Gambar Ilustrasi (Kanan) KH Ahmad Dahlan pendiri Muhamadiyah (Kiri) KH Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

Oleh : Lisa Satryana

(Aktivis Muslimah & Mahasiswi Universitas Islam Negeri Jember)

JAS MERAH. Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah.Masyarakat Indonesia dalam waktu-waktu saat ini kembali disuguhkan dengan film bergenre religi, berjudul “Jejak Langkah 2 Ulama” yang diinisiasi oleh Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Pondok Pesantren Tebuireng.

Beberapa hari yang lalu Universitas Muhammadiyah Jember juga telah membuka beberapa jadwal tayang pemutaran film “Jejak Langkah 2 Ulama” untuk umum. Dilaksanakan selama 3 hari mulai tanggal 9 sampai 11 maret 2020  dengan masing-masing sesi 1,2 & 3. Tepat pada tanggal 10 maret saya mengikuti nobar “Jejak Langkah 2 Ulama” pada sesi ke 2 yang ditayangkan pada jam 12.15--14.45 yang dibuka untuk Mahasiswa dan Umum dengan harga tiket Rp. 18.000.

Film Jejak Langkah 2 Ulama  secara garis besar menceritakan perjalanan hidup dua ulama besar nusantara dan memiliki misi meluruskan posisi dua tokoh Islam Indonesia, KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari yang selama ini dibelokkan seolah-olah bersembrangan dan berbenturan dengan visi dakwah kaum muslimin saat ini yang menginginkan syari’at Islam bagi kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.

Karena salah satu poin utama hadirnya film ini adalah memperkuat persamaan keduanya, yang sama-sama pernah mempelajari dan mengkaji ilmu fiqh, tasawuf dan berbagai macam ilmu agama lainnya kepada Kiai Shaleh Darat di semarang, keduanya juga sama-sama mengaji kepada KH Cholil Bangkalan maupun saat beliau-beliau menuntut ilmu agama di Mekkah beberapa ulama yang menjadi guru pun sama seperti Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabauwy, Syekh Al Bantany, Kyai Dimyati asal tremas dan beberapa guru lainnya.

Kedua tokoh besar ini mulai dari masa kecil, masa-masa muda hingga dewasanya menghabiskan banyak waktu untuk memperjuangkan tegaknya agama dibumi Indonesia (Tribunnews.com Penulis Endra Kurniawan 9/12/2019).

Dalam film tersebut 2 ulama besar Indonesia sebenarnya berjuang dalam mengubah masyarakat yang rusak lagi penuh kedzaliman yaitu kehidupan jahiliyah menjadi masyarakat yang beradab, jahiliyah tersebab menolak syari’at Allah, beradab tersebab memahami dan menerapkan syari’at Allah.

Perjuangan 2 ulama tersebut dengan transformasi kefakihan ilmu syari’atnya melalui jalan dakwah. Hingga membentuk pemikiran dan perasaan masyarakat menjadi pemikiran dan perasaan Islam. Sehingga ketika syari’at Islam diterapkan, masyarakat menerimanya dengan penuh keimanan dan ketakwaan.

Menelik catatan sejarah, Semasa perjuangan kemerdekaan Indonesia, ulama ada di garda terdepan mengusir penjajah dan penjajahan. Karena mereka memahami bahwa di dalam Islam penjajahan adalah sebuah bentuk kedzaliman. Ulama adalah pewaris Nabi. Tugas yang diemban para Nabi adalah menyampaikan risalah Allah.

Artinya, pemahaman ilmu agama yang dimiliki ulama, yang melebihi orang biasa adalah untuk disampaikan dengan sebenar-benarnya tanpa ada yang disembunyikan. Kebenaran dan Kebathilan harus disampaikan secara jelas, tidak abu-abu.
Sebagai buktinya di dalam penetapan tanggal 22 Oktober sebagai hari Santri Nasional ternyata memiliki keterkaitan langsung dengan peristiwa berdarah ketika bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaannya. Peristiwa tersebut adalah deklarasi Resolusi Jihad yang dilakukan pendiri Nadhatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari di surabaya pada tanggal 22 Oktober 1945.

Pada hari itu, KH Hasyim Asy’ari menyerukan kepada para santrinya untuk ikut berjuang mencegah tentara Belanda kembali menguasai Indonesia melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) [Makassar.

Tribunnews.com, 21/10/2018] Menelisik filosofi penetapan di atas, maka jiwa ketidakrelaan atas penjajahan yang dialami negeri ini haruslah aspek utama yang perlu dimiliki setiap penerus KH Hasyim Asy’ari. Ketika dulu seruan Jihad digemakan dalam rangka memuliakan negeri dan mengusir pendzaliman penjajahan, maka juga seharusnya menjadi misi perjuangan hingga saat ini.

Walaupun, bedanya zaman sekarang penjajahan tak lagi berwujud fisik, melainkan penjajahan secara pemikiran dan budaya yang merupakan ide dari sekularisme, neo-liberalisme, dan kebudayaan permisif yang serba hedonis. Dan semua itu adalah sebuah upaya terstruktur yang hendak menjauhkan umat dari Islamnya.

Yang dengan ide sekularisme tersebut memberikan cara berfikir yang penuh dengan kedengkian terhadap Islam, oleh komprador Barat kemudian dipelintir menjadi kedengkian kepada sesama muslim yang menolak eksistensi Barat dengan Ideologi Kapitalismenya.

Model berpikir dan bersikap mengikuti arahan opini Barat terhadap Islam inilah yang seharusnya dibakar habis. Sebab nyata sekali pola pikir dan pola sikap barat ini banyak merugikan umat dan justru menjauhkan umat dari hakikat kebangkitan dan persatuan.

“Kita harus tahu bagaimana memaknai perbedaan dan kemudian menyatukan persamaan. Tentu ini akan menjadi kekuatan besar bagi umat Islam maupun bangsa Indonesia”. Kata Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si
“Persatuan Indonesia sangat bergantung kepada persatuan Islam, kalau Islam tidak bersatu, mustahil Indonesia bersatu”. KH Sholahudin Wahid.

Agar tak ada celah propaganda Barat menguasai generasi muslim dan agar persatuan Islam dapat terwujud nyata, hingga bersatu di bawah naungan kalimat tauhid di seluruh penjuru dunia. Maka kita harus kembali pada firman Allah yang berbunyi :
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmah Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu.

Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS. Ali-Imran:103)Wa

llahu’alam Bishowab

 

Tulisan artikel yang dimuat di suaraindonesia.co.id adalah murni karya suara pembaca dan bukan menjadi tanggungjawab dari redaksi.


Kontributor :
Editor : Chandra Kirana
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar